Berhala sebagai Tembok: Mengapa Tuhan Memilih Mediator, dan Mengapa Kita Tetap Membangun Dinding

Berhala sebagai Tembok: Mengapa Tuhan Memilih Mediator, dan Mengapa Kita Tetap Membangun Dinding

Pendahuluan: Berhala Bukan Soal Ketidaktahuan

Kita biasanya memahami penyembahan berhala sebagai akibat ketidaktahuan—manusia purba tidak mengenal Allah yang benar, maka mereka menyembah batu, kayu, dan patung. Tetapi Alkitab tidak mendukung gambaran itu. Roma 1:19-23 menyatakan bahwa manusia sudah tahu tentang Allah: "Apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak... sehingga mereka tidak dapat berdalih." Masalahnya bukan ketidaktahuan, melainkan penolakan: "Mereka menukar kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana."

Jika demikian, mengapa manusia membuat berhala? Jawabannya lebih dalam dari sekadar kebodohan. Manusia membuat berhala karena takut—takut akan Allah yang tidak dapat dikendalikan, takut akan ketelanjangan di hadapan-Nya, takut bahwa jika ia mendekat tanpa tembok, ia akan hancur. Berhala adalah tembok yang dibangun oleh kenaifan intelektual yang sama dengan yang ada di Eden: keinginan untuk memiliki pengetahuan dan kendali atas yang ilahi, tanpa harus menyerahkan diri kepada-Nya.

Artikel ini akan menelusuri apakah Tuhan benar-benar membenci penyembah berhala ataukah Ia membenci tembok yang mereka bangun; mengapa Tuhan jarang bertatap langsung dengan manusia dan lebih memilih mediator; dan mengapa dalam inkarnasi Allah menggambarkan diri-Nya sebagai Malaikat Allah, Anak Allah, utusan, dan hamba—semua demi memahami manusia yang tetap sama naifnya, bahkan di dalam gereja.

Apa yang Sebenarnya Dibenci Tuhan: Berhala atau Temboknya?

Mari kita periksa Alkitab dengan cermat. Perintah pertama: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun..." (Keluaran 20:3-4). Mengapa Tuhan melarangnya? Bukan karena Ia tersinggung secara egois, melainkan karena berhala merusak relasi. Berhala adalah tembok yang menggantikan wajah.

Perhatikan: Tuhan tidak pernah menggambarkan berhala sebagai "saingan" yang benar-benar ada. Ia menertawakannya: "Mereka itu seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara" (Yeremia 10:5). "Mulut mereka, tetapi tidak dapat berkata-kata; mata mereka, tetapi tidak dapat melihat" (Mazmur 115:5-6). Berhala bukanlah ancaman bagi Tuhan; ia adalah ancaman bagi manusia. Berhala membuat manusia berpikir ia telah mendekat kepada yang ilahi, padahal ia sedang bersembunyi di balik tembok buatannya sendiri.

Jadi apa yang Tuhan benci? Bukan terutama patungnya, melainkan sikap di baliknya: keinginan untuk mengendalikan Allah, untuk memiliki "Allah" yang dapat diatur, yang dapat diprediksi, yang tidak menuntut penyerahan diri. Berhala adalah bentuk lain dari daun ara—usaha manusia menutupi ketelanjangannya dengan sesuatu yang ia produksi sendiri.

Yesaya mengejek absurditas ini dengan tajam: dari sepotong kayu, setengahnya dibakar untuk menghangatkan diri, setengahnya lagi dibuat menjadi allah dan disembah (Yesaya 44:14-20). "Ia tidak tahu apa-apa, hatinya tertutup, sehingga ia tidak dapat berkata: 'Bukankah yang ada di tangan kananku ini adalah dusta?'" (44:20). Manusia membangun tembok, lalu bersembunyi di baliknya, dan menyebutnya ibadah.

Mengapa Tuhan Jarang Bertatap Langsung: Mediator sebagai Konsekuensi Kasih

Kita sering bertanya: mengapa Tuhan tidak langsung berbicara kepada manusia? Mengapa Ia menggunakan nabi, malaikat, mimpi, bahkan akhirnya Putra-Nya sendiri? Bukankah tatap muka langsung lebih sederhana?

Jawabannya terletak pada tragedi Eden. Ketika Allah berjalan di taman dan manusia mendengar suara-Nya, apa yang terjadi? Manusia bersembunyi (Kejadian 3:8). Ketika Tuhan memanggil, manusia menjawab dengan tembok: "aku telanjang." Tatap muka langsung, setelah manusia membangun temboknya, tidak lagi menyelamatkan—ia justru menghancurkan. Manusia tidak siap.

Karena itu Tuhan memilih mediator. Bukan karena Ia tidak mau dekat, melainkan karena Ia tahu manusia belum siap untuk dekat. Perhatikan pola ini di seluruh Alkitab:

Musa berkata: "Siapa aku, bahwa aku harus menghadap Firaun?" Dan ketika Tuhan hendak berbicara langsung kepada bangsa Israel di Sinai, bangsa itu gemetar dan berkata kepada Musa: "Engkau sajalah yang berbicara kepada kami, dan kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara langsung kepada kami, supaya kami jangan mati" (Keluaran 20:19). Mereka sendiri meminta mediator! Mereka tahu bahwa kedekatan langsung dengan Yang Kudus akan menghancurkan mereka yang masih penuh tembok.

Para nabi adalah mediator: "TUHAN tidak melakukan apa-apa tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi" (Amos 3:7). Tuhan berbicara melalui manusia kepada manusia—karena manusia lebih mudah menerima pesan dari sesamanya yang rapuh daripada dari Yang Mahakudus yang tidak dapat dilihatnya.

Malaikat adalah mediator. Kata "mal'akh" dalam bahasa Ibrani berarti "utusan." Dalam Perjanjian Lama, "Malaikat TUHAN" sering kali berbicara dengan otoritas ilahi—dan teks-teks tertentu menunjukkan bahwa Ia bukan sekadar makhluk ciptaan, melainkan kehadiran Allah sendiri dalam bentuk yang dapat diterima manusia (bdk. Keluaran 3:2-6; Hakim-hakim 6:11-24; 13:21-22).

Ini bukan eksklusivisme Tuhan. Ini adalah pedagogi kasih. Tuhan menyesuaikan diri dengan kondisi manusia yang rapuh—seperti orang tua yang berbicara dengan bahasa bayi kepada bayinya, bukan karena ia tidak mampu berbicara dewasa, melainkan karena ia mengasihi.

Inkarnasi: Allah yang Menyebut Diri-Nya "Utusan" dan "Hamba"

Puncak dari pedagogi ini adalah inkarnasi. Ketika Allah hendak hadir di dunia, Ia tidak datang dalam kemuliaan yang menghancurkan, tetapi dalam rupa yang dapat diterima manusia.

Filipi 2:6-8 adalah kuncinya: "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."

Ia menyebut diri-Nya "Anak Allah"—sebuah gelar yang dapat dipahami manusia, yang masih berada dalam kategori-kategori dunia. Ia menyebut diri-Nya "utusan": "Aku diutus Bapa" (Yohanes 5:36; 6:57). Ia menyebut diri-Nya "hamba": "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Markus 10:45). Ia bahkan, dalam beberapa kesempatan, tampil sebagai "Malaikat TUHAN"—utusan yang membawa kehadiran Allah sendiri.

Mengapa? Karena Ia memahami manusia. Ia tahu tragedi Eden. Ia tahu bahwa manusia, oleh kenaifan intelektualnya, akan menolak Allah yang datang secara langsung dalam kemuliaan. Maka Ia datang sebagai yang dapat diterima: sebagai bayi di palungan, sebagai tukang kayu dari Nazaret, sebagai rabi yang berjalan di jalan debu, sebagai hamba yang menderita. Ia menanggalkan kemuliaan yang menghancurkan dan mengenakan kerapuhan yang menyelamatkan.

Bonhoeffer menyebut ini "Allah yang lemah"—Allah yang membiarkan diri-Nya didorong, dihina, dan disalibkan, karena hanya dalam kelemahan itu Ia dapat diterima oleh manusia yang penuh tembok. "Hanya Allah yang menderita yang dapat menolong" (Only a suffering God can help). Kekuatan yang memaksa akan membangun tembok yang lebih tebal; kasih yang menderita dapat meruntuhkannya.

Kenaifan Intelektual yang Sama di dalam Gereja

Tetapi tragedi Eden terus berulang—bahkan di dalam gereja. Gereja, yang seharusnya menjadi komunitas yang menerima Allah yang datang sebagai hamba, sering kali justru membangun tembok baru dengan bahan yang berbeda: teologi, dogma, tradisi, bahkan intelektualitas itu sendiri.

Ketika kita menggambarkan Allah dengan kategori-kategori filsafat Yunani, kita mengulangi kesalahan Adam: kita merasa tahu apa artinya "Allah," lalu membangun tembok konsep yang menghalangi kita berjumpa dengan Dia yang sesungguhnya. Kita menciptakan "Allah" yang dapat kita kendalikan dengan definisi—dan itu adalah berhala intelektual, sama seperti patung kayu di zaman Yesaya.

Ketika kita menolak sesama karena perbedaan teologis, kita sedang membangun tembok seperti Adam: "aku telanjang, jangan mendekat." Kita merasa tahu siapa yang layak dan tidak layak, dan dari pengetahuan itu kita membangun pemisahan—padahal Tuhan justru datang mencari yang terhilang.

Ketika kita lebih mencintai sistem doktrin daripada Kristus yang sistem itu coba jelaskan, kita telah menukar Kemuliaan dengan gambaran—persis seperti Roma 1:23. Kita menyembah berhala teologis.

Karl Barth pernah berkata bahwa ketika ia menulis tentang Allah, ia harus menulis seolah-olah "Allah lebih besar dari pada semua yang dapat kita katakan tentang Dia." Teologi yang baik selalu diakhiri dengan doa: "Tuhan, ampunilah pengetahuan kami tentang Engkau." Karena pengetahuan yang tidak lahir dari kasih—bahkan pengetahuan teologis—adalah keangkuhan yang mendirikan tembok.

Penutup: Tuhan yang Terus Mencari di Balik Tembok

Mari kita simpulkan.

Tuhan tidak membenci penyembah berhala karena Ia tersinggung; Ia membenci tembok yang dibangun manusia, karena tembok itu memisahkan manusia dari kasih-Nya. Berhala adalah daun ara yang lebih besar—usaha menutupi ketelanjangan tanpa menerima pakaian yang Tuhan sediakan.

Tuhan jarang bertatap langsung dengan manusia bukan karena eksklusivisme, melainkan karena kasih yang memahami: manusia belum siap, dan tatap muka langsung dengan Yang Kudus akan menghancurkan mereka yang masih penuh tembok. Maka Ia memakai mediator—nabi, malaikat, dan akhirnya Putra-Nya sendiri—yang menyebut diri-Nya utusan dan hamba, agar manusia dapat menerima-Nya tanpa hancur.

Dan ketika Ia datang dalam Kristus, Ia tidak datang untuk menghakimi tembok-tembok kita, melainkan untuk meruntuhkannya dari dalam—bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kasih yang menderita. Ia mengetuk, bukan mendobrak. Ia berdiri di ambang pintu dan berkata: "Lihatlah, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya" (Wahyu 3:20).

Tragedi Eden akan berulang selama kita masih berkata "aku telanjang" dan membangun tembok. Tetapi kasih Tuhan tidak berhenti mencari. Ia terus bertanya: "Di manakah engkau?"—bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengundang kita keluar dari balik berhala-berhala kita, melepas daun ara kita, dan menerima pakaian yang Ia sediakan: kemuliaan kasih-Nya.

Maka pertanyaan bagi kita—dan bagi gereja—adalah ini: berhala apa yang sedang kita bangun hari ini? Tembok apa yang kita sebut "teologi" atau "tradisi" atau "intelektualitas," padahal ia hanyalah daun ara yang menutupi ketelanjangan kita? Dan apakah kita bersedia mendengar suara Utusan yang datang sebagai Hamba, dan membukakan pintu?

---

Referensi:

Alkitab:

· Kejadian 3:8-10; Keluaran 3:2-6; 20:3-4, 19; Hakim-hakim 6:11-24; 13:21-22; Yesaya 44:14-20; Yeremia 10:5; Amos 3:7; Mazmur 115:5-6; Roma 1:19-23; Filipi 2:6-8; Markus 10:45; Yohanes 5:36; 6:57; Wahyu 3:20.

Teolog:

· Dietrich Bonhoeffer, Letters and Papers from Prison (1951)—"Only a suffering God can help"; Creation and Fall (1933).
· Karl Barth, Church Dogmatics—tentang Allah yang melampaui semua konsep kita.
· Jürgen Moltmann, The Crucified God (1972)—Allah yang menderita, melawan apatheia Yunani.
· Abraham Heschel, The Prophets (1962)—tentang pathos Allah dan kritik terhadap berhala.
· N.T. Wright, The Day the Revolution Began (2016).
· Walter Brueggemann, Genesis (Interpretation Commentary).

Sekuler:

· Emmanuel Levinas, Totality and Infinity (1961)—kritik atas pengetahuan yang meniadakan "Yang Lain."
· Martin Buber, I and Thou (1923)—relasi "Aku-Engkau" versus "Aku-Itu" (berhala sebagai objek).
· Zygmunt Bauman, Liquid Modernity (2000).
· Literatur psikologi tentang idolatry sebagai mekanisme pertahanan terhadap kecemasan eksistensial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Article List

The Fig Leaves - Part 3

TRINITY : ENTITY or RELATION