Love Never Keeps Promises, Only Promises Keep Love

  Love Never Keeps Promises, Only Promises Keep Love Why the Foundation of Human Love is Not Feeling, but Commitment --- Introduction Since the fall of humanity into sin, our ability to love perfectly has been tainted. Human love becomes fragile, inconsistent, and vulnerable to self-interest. In this condition, God no longer bases His relationship with humanity on easily forgotten "words of love," but on eternal covenantal promises. This principle applies not only to the relationship between humans and God but also to interpersonal relationships—including marriage. --- 1. Love Never Keeps Promises Love, in the sense of human feeling, is fluctuating. It can strengthen in times of joy and weaken in the midst of difficulty. The biblical narrative is full of examples of human infidelity: - Israel repeatedly forgot their love for God and turned to idols. - David, called "a man after God's own heart," fell into adultery and murder. - Peter, who claimed he was ready to...

Sang Hakim yang Disalah Pahami

Narasi Salib dan Sumpah Allah


Kasih yang Masuk ke Dalam Konsekuensi Kita


Ini bukan sebuah cerita tentang seorang Hakim yang murka yang menghukum Putra-Nya yang tidak bersalah sebagai pengganti para pendosa.


Ini adalah cerita tentang Kasih itu sendiri yang, menyaksikan ciptaan-Nya hancur oleh racun dosa yang mereka pilih sendiri, memutuskan untuk turun ke dalam lorong paling gelap dari konsekuensi itu, untuk menanggungnya, mengalahkannya dari dalam, dan membuka jalan keluar.


1. Diagnosa Masalah: Konsekuensi yang Mematikan

Umat manusia telah memilih jalan yang berlawanan dengan Sumber Kehidupan. Dosa bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi seperti meminum racun yang memutuskan hubungan kita dengan Allah. Konsekuensinya adalah kematian spiritual, perbudakan, dan keterpisahan—bukan karena Allah mendendam, tetapi karena itulah realitas ontologis dari keberadaan yang terputus dari-Nya. Kita terjebak dalam siklus kehancuran yang kita ciptakan sendiri.


2. Intervensi Allah: Kasih yang Membeda dan Memulihkan

Allah, sebagai Hakim yang Adil, tidak tinggal diam. Keadilan-Nya bukan keinginan untuk membalas, tetapi komitmen aktif untuk membedakan yang baik dari yang jahat dan memulihkan tatanan.

Seruan-Nya, "Bertobatlah!" (Yehezkiel 33:11), adalah upaya untuk menarik kita keluar dari konsekuensi itu. Namun, umat manusia begitu terbelenggu oleh racun itu sehingga tidak mampu menyelamatkan diri sendiri.


Hal ini memaksa kita untuk memahami ulang konsep "murka Allah" yang sering disalah-tafsirkan. Dalam kerangka naratif ini, murka Allah tidak dilihat sebagai emosi negatif yang berlawanan dengan kasih, melainkan sebagai dimensi necessary dari kasih ilahi itu sendiri ketika berhadapan dengan kejahatan. Kasih yang berkomitmen untuk memulihkan kehidupan (khafets) harus secara aktif beroposisi terhadap segala sesuatu yang mengancam kehidupan itu—yaitu dosa dan konsekuensinya.


Murka Allah adalah manifestasi dari keadilan-Nya yang restoratif dalam mode konfrontatif. Ini adalah penegasan bahwa Allah bukanlah Allah yang acuh tak acuh; Dia sangat peduli sehingga Dia secara aktif menentang kejahatan yang mencengkeram ciptaan-Nya. Dengan demikian, murka terutama ditujukan pada racun dosanya, bukan pada orang yang sedang diracuninya. Seruan untuk bertobat adalah undangan untuk keluar dari jalur yang sedang ditentang oleh murka Allah tersebut dan masuk ke dalam jalur pemulihan yang dihasilkan oleh kasih-Nya.


Lihatlah pola yang sama dalam Yehezkiel 34:8. Allah bersumpah, "Demi Aku yang hidup... Aku sendiri akan menjadi musuh gembala-gembala-Ku." Mengapa? Karena kasih-Nya kepada domba-domba-Nya yang dirampok dan ditelantarkan begitu besar, sehingga Dia secara aktif akan menentang (menjadi musuh) bagi siapa pun yang menyakiti mereka. Inilah murka Allah yang sejati: bukan amarah yang tidak terkendali, tetapi oposisi yang tepat sasaran dan penuh kasih untuk tujuan pemulihan.


3. Puncak Kasih: Inkarnasi ke Dalam Konsekuensi

Maka, Kasih yang berkomitmen untuk memulihkan itu mengambil langkah yang paling radikal.

Firman itu menjadi manusia (Yohanes 1:14).

Allah, dalam Pribadi Yesus, tidak mengirim seorang pengganti. Dia sendiri masuk ke dalam kondisi manusia yang terjebak dalam dosa dan maut. Dia hidup dalam solidaritas penuh dengan kita, merasakan setiap godaan dan penderitaan, tetapi tidak meminum racun dosa itu sendiri. Dia tetap terhubung sempurna dengan Bapa.


4. Salib: Menanggung Konsekuensi hingga ke Ujungnya

Di kayu salib, Yesus—manusia sejati dan Allah sejati—dengan rela membiarkan diri-Nya diseret ke dalam pusaran paling dahsyat dari konsekuensi dosa manusia.

   Dia mengalami pengkhianatan dan kebencian (konsekuensi dosa sosial).

   Dia mengalami kekerasan dan ketidakadilan (konsekuensi dosa struktural).

   Dia mengalami penderitaan fisik dan kematian (konsekuensi dosa dalam dunia fana).

   Yang paling dalam, Dia berseru, _"Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"_ (Matius 27:46). Ini adalah pengalaman keterpisahan ontologis dari Sumber Kehidupan.


Inilah yang ditanggungnya. Bukan "murka Bapa", tetapi seluruh beban berat dan kehancuran dari konsekuensi dosa umat manusia. Dia memasuki "api" itu sendiri.


5. Kemenangan: Konsekuensi Dikalahkan dari Dalam

Kematian bukanlah akhir. Karena Yesus adalah Sang Kehidupan sendiri dan tidak memiliki racun dosa dalam diri-Nya, konsekuensi itu tidak dapat menahannya.

Kebangkitan adalah bukti bahwa Kasih dan Kehidupan lebih kuat daripada kehancuran dan kematian. Dia telah melewati lorong gelap itu dan keluar victorious di seberangnya. Dia telah mengalahkan maut dari dalam.


6. Undangan dan Rekonsiliasi: Jalan Baru Terbuka

Dengan melakukan ini, Yesus tidak "membayar hutang kepada Bapa". Sebaliknya, Dia membuka jalan keluar dari konsekuensi yang menghancurkan itu bagi semua orang.

Salib adalah undangan universal:

> "Lihatlah! Aku telah masuk ke dalam neraka konsekuensimu dan Aku keluar sebagai pemenang. Percayalah kepada-Ku. Ikutlah Aku melalui jalan ini. Hubungkanlah dirimu lagi kepada-Ku, Sang Sumber Kehidupan, dan kamu akan dibebaskan dari siklus kehancuran ini. Kamu akan diampuni, dipulihkan, dan dihidupkan kembali."


Penutup: Apa Artinya Ini?

   Tentang Allah: Allah bukanlah sosok yang haus hukuman. Dia adalah Kasih yang rela menderita bersama kita dan untuk kita, menanggung konsekuensi pilihan kita untuk menyelamatkan kita.

   Tentang Penebusan: Penebusan bukanlah transaksi hukum yang dingin, tetapi tindakan penyelamatan yang penuh kasih dan personal. Allah dalam Kristus adalah sekaligus yang menyelamatkan dan jalan keselamatan itu sendiri.

   Tentang Kita: Panggilan kita adalah untuk mempercayai bahwa jalan Yesus inilah jalan menuju kehidupan, bertobat (berbalik dari jalan kita yang merusak), dan mengikut Dia dalam hidup yang dipulihkan dan berhubungan kembali dengan Allah.


Inilah Injil—Kabar Baik—melalui lensa Keadilan sebagai Kasih yang Memulihkan.




Sebuah Benang Merah dari Perjanjian Lama


Antara Salib dan “Sumpah” Allah


Kekuatan performatif dan format sumpah dari pernyataan Allah.


Mari kita urai struktur dan makna dari Yehezkiel 33:11 dengan memperhatikan kata "Demi" yang ada dalam ayat tersebut..


 Analisis Struktur & Makna Budaya dari Yehezkiel 33:11


1. "Demi Aku yang hidup" (Hebrew: חַי אָנֹכִי, Khay anokhi)


   Ini adalah Formula Sumpah: Frasa ini bukan sekadar penekanan. Ini adalah formula sumpah yang paling serius dan binding dalam budaya Ibrani kuno. Ini setara dengan seseorang meletakkan tangan pada Kitab Suci dan berkata, "Saya bersumpah demi Allah yang Mahatinggi..."

   Dasar Sumpah adalah Diri-Nya Sendiri: Allah bersumpah demi kehidupan-Nya sendiri. Ini adalah puncak otoritas. Tidak ada yang lebih tinggi dari diri-Nya untuk dijadikan sandaran sumpah. Dengan melakukan ini, Dia menempatkan integritas dan very existence-Nya sebagai jaminan dari kebenaran pernyataan berikutnya.

   Tujuan: Untuk mengakhiri semua debat, keraguan, dan salah tafsir tentang karakter dan niat-Nya. Ini adalah pernyataan final dan absolut.


2. "demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Hebrew: נְאֻם אֲדֹנָי יְהוִה, Neum Adonai YHWH)


   Penegasan Otoritas: Ini adalah stempel resmi. Ini mengidentifikasi sumber dari sumpah tadi. Ini bukan pendapat nabi Yehezkiel; ini adalah firman (neum) dari Yahweh, Sang Tuhan yang berdaulat.

   Kombinasi yang Tak Terkalahkan: Menyatukan formula sumpah yang paling kuat ("Demi Aku yang hidup") dengan formula pewahyuan yang paling otoritatif ("firman Tuhan ALLAH") menciptakan pernyataan yang tidak dapat disangkal lagi. Ini adalah kebenaran tertinggi tentang diri Allah.


3. Isi Sumpah: "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu sehingga ia hidup."


   Inilah Kebenaran yang Dipertaruhkan oleh Hidup-Nya: Isi dari sumpah ilahi ini adalah penolakan langsung terhadap segala gambaran Allah yang haus hukuman atau senang melihat orang fasik menderita.

   "Berkenan" (Hebrew: חָפֵץ, khafets) berarti "mendapatkan kesenangan," "berkenan," "menginginkan dengan sungguh-sungguh." Allah secara aktif dan sungguh-sungguh tidak menginginkan (lo khafets) kematian orang fasik. Sebaliknya, Dia secara aktif dan sungguh-sungguh menginginkan (im khafets) pertobatan mereka yang menghasilkan kehidupan.

   Pertentangan yang Mutlak: Kedua keinginan ini ("tidak berkenan pada kematian" dan "berkenan pada pertobatan") diposisikan sebagai dua hal yang mutlak bertolak belakang. Yang satu mengecualikan yang lain.


4. Seruan: "Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat!"


   Ini adalah Inti dan Tujuan dari Sumpah Tersebut: Seluruh pernyataan sumpah yang agung ini tidak dimaksudkan hanya untuk menjadi pernyataan teologis. Tujuannya adalah seruan untuk bertobat.

   Pengulangan "Bertobatlah!" menunjukan urgensi dan kasih sayang. Ini adalah teriakan dari seorang dokter yang telah bersumpah untuk menyembuhkan, yang melihat pasiennya sedang meminum racun. "Hentikan! Hentikanlah itu!"

   Sumpah itu Memberikan Jaminan: Seruan untuk bertobat ini tidak datang dari ancaman, tetapi dari jaminan. Allah pada dasarnya berkata, "Kamu bisa percaya untuk bertobat kepada-Ku, karena Aku bersumpah demi hidup-Ku sendiri bahwa inilah yang paling Kuinginkan. Aku tidak menjebakmu. Aku tidak menantikan kesalahanmu. Aku menginginkan pemulihanmu."


5. Bukti dari Konteks yang Lebih Luas: Yehezkiel 34:8


Formula sumpah yang sama (Khay anokhi) digunakan kembali hanya beberapa ayat berikutnya untuk menyatakan tindakan Allah. "Demi Aku yang hidup... demikianlah firman Tuhan ALLAH, ... Aku sendiri akan menjadi musuh gembala-gembala-Ku." Ini memperlihatkan bahwa sumpah Allah di 33:11 tentang keinginan-Nya untuk menyelamatkan bukanlah kata-kata kosong. Itu diikuti dengan tindakan nyata untuk menentang segala sesuatu yang mengancam keselamatan umat-Nya. Kehendak-Nya untuk hidup (33:11) diwujudkan dengan perlawanan aktif terhadap para perusak kehidupan (34:8).


 Kesimpulan: Narasi Alternatif yang Diwahyukan Sendiri oleh Allah


Melalui analisis struktur ini, kita melihat bahwa Yehezkiel 33:11 bukanlah sekadar satu ayat di antara banyak ayat. Ini adalah sanggahan ilahi terhadap narasi yang salah tentang Diri-Nya.


Allah sendiri, dengan otoritas tertinggi yang bisa Dia gunakan (sumpah demi diri-Nya), menyatakan:

   "Stop! Gambaran tentang Aku yang senang menghukum adalah salah."

   "Inilah hati-Ku yang sebenarnya: Aku menginginkan pertobatan dan kehidupanmu, bukan kematianmu."

   "Percayalah pada ini, dan berbaliklah kepada-Ku."


Oleh karena itu, ayat ini harus menjadi lensa hermeneutika yang utama untuk membaca semua teks "penghakiman" lainnya. Setiap teks yang seolah menunjukkan Allah yang haus hukuman harus dibaca kembali dan ditundukkan pada kebenaran agung yang diucapkan dengan sumpah ini. Jika ada yang tampak bertentangan, maka pemahaman kitalah tentang teks "penghakiman" itu yang harus ditinjau ulang, bukan kebenaran dari Yehezkiel 33:11.


Ini memberikan landasan yang kokoh bagi narasi salib yang berpusat pada kasih dan solidaritas, bukan pada retribusi dan pemuasan murka. Salib adalah puncak dari Allah yang "tidak berkenan kepada kematian orang fasik," sehingga Dia masuk ke dalam kematian itu sendiri untuk mengalahkannya dan membuka jalan bagi pertobatan dan kehidupan.




Sebuah Pesan Yang Tegas


Yehezkiel 33:11, dengan struktur sumpahnya yang begitu kuat, adalah pesan profetik yang sangat langsung dan sengaja ditujukan untuk membongkar dan menolak paham deterministik legal.


Mari kita break down mengapa demikian.


 Mengapa Yehezkiel 33:11 adalah Bantahan Langsung terhadap Determinisme Legal


Paham deterministik legal melihat hubungan Allah-manusia terutama melalui lensa:

1.  Hukum yang absolut dan kaku.

2.  Pelanggaran yang otomatis memicu hukuman (retribusi).

3.  Sebuah sistem yang deterministik/otomatis: Berdosa -> DiHukum. Taat -> Diberkati. Seperti mesin yang tidak bisa diubah.


Yehezkiel 33:11 menyuntikkan sebuah variabel yang sama sekali tidak terduga dan mengacaukan sistem mekanis itu: KEHENDAK BEBAS DAN KASIH ALLAH.


Berikut adalah cara ayat ini menghancurkannya:


1. Ia Mengganti "Hukuman Otomatis" dengan "Kehendak Personal Allah"

-   Dalam sistem deterministik legal: Kematian orang fasik adalah hasil otomatis dari pelanggaran hukum. Sistemnya yang berjalan.

-   Dalam Yehezkiel 33:11: Allah secara eksplisit menyatakan "Aku tidak berkenan..." (Lo khafets). Ini adalah pernyataan kehendak (will), keinginan (desire), dan sikap personal.

    Ini berarti hasil akhir bagi orang fasik bukanlah sekadar produk dari sistem hukum yang berjalan tanpa perasaan, tetapi sesuatu yang secara aktif tidak diinginkan oleh Pemberi Hukum itu sendiri. Sistemnya tidak deterministik karena Sang Pembuat Hukum secara personal ikut campur dalam sistem tersebut dengan keinginan-Nya yang berbelas kasih.


2. Ia Memutus Rantai Determinisme dengan "Pertobatan"

-   Dalam sistem deterministik legal: Jalannya sudah ditetapkan. Dosa mengarah pada hukuman. Titik.

-   Dalam Yehezkiel 33:11: Allah menyuntikkan sebuah jalan keluar yang tidak deterministik: "melainkan Aku berkenan kepada PERTOBATAN orang fasik itu."

    Pertobatan adalah variabel yang tidak terduga. Itu adalah tindakan kehendak bebas manusia untuk merespons kasih karunia Allah. Itu mengacaukan jalur "dosa -> hukuman" yang sudah ditentukan dan membuka kemungkinan untuk jalur baru: dosa -> pertobatan -> kehidupan.

    Dengan kata lain, nasib seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh dosa masa lalunya, tetapi dapat diubah oleh pilihannya untuk bertobat pada masa sekarang. Ini adalah anti-determinisme.


3. Ia Menunjukkan Bahwa Tujuan Akhir Allah Bukanlah Penegakan Hukum, tetapi Pemulihan Kehidupan

-   Dalam sistem deterministik legal: Tujuan utamanya adalah menegakkan hukum dan memulihkan keadilan abstrak melalui hukuman.

-   Dalam Yehezkiel 33:11: Tujuan akhir Allah adalah "sehingga ia hidup".

    Hukum bukanlah tujuan akhir; hukum adalah sarana untuk menuju kepada kehidupan yang berkelimpahan. Ketika hukum dan kehidupan bert冲突, kehendak Allah yang terdalam adalah memilih kehidupan. Keadilan retributif (mematikan orang fasik) ditundukkan kepada tujuan yang lebih besar, yaitu keadilan restoratif (memulihkan orang fasik sehingga hidup).


 Kesimpulan: Dari Mesin Hukum ke Relasi Personal


Yehezkiel 33:11 memindahkan seluruh naratif dari ranah hukum yang mekanis ke ranah relasi yang personal.


Allah bukanlah seorang Programmer yang menjalankan kode hukum yang tidak bisa diubah. Dia adalah seorang Bapa yang:

-   Memiliki keinginan yang mendalam (khafets) untuk anak-anak-Nya.

-   Secara aktif menginginkan yang terbaik bagi mereka (kehidupan).

-   Memberikan jalan keluar dari konsekuensi dosa mereka (pertobatan).

-   Bersumpah demi diri-Nya sendiri untuk meyakinkan mereka bahwa Dia dapat dipercaya.


Oleh karena itu, ayat ini adalah senjata paling ampuh melawan setiap teologi yang menggambarkan Allah sebagai tiran yang terikat pada hukumnya sendiri atau sebagai kekuatan deterministik yang tidak peduli.


Pesan bagi paham deterministik legal adalah ini: "Anda salah. Sistem saya tidak berjalan tanpa perasaan. Hati saya lebih besar daripada hukum saya. Hukum saya ada untuk melayani tujuan kasih saya, yaitu kehidupan. Percayalah pada saya, bukan pada pemahaman anda yang kaku tentang sistem saya. Berbaliklah kepada saya."


Dengan demikian, salib bukanlah penggagalan dari sumpah Allah dalam Yehezkiel 33:11, tetapi justru penggenapannya yang paling radikal dan mulia. Di Kayu Golgota, kita menyaksikan Allah yang bersumpah "Demi Aku yang hidup, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik!" itu sendiri turun ke dalam kubur kematian umat manusia. Dalam pribadi Yesus, Dia menanggung seluruh berat konsekuensi dosa yang tidak pernah Dia kehendaki, mengalahkannya dari dalam, dan membuka jalan keluar—jalan pertobatan dan kehidupan yang telah Dia rindukan sejak semula. Salib adalah bukti terbesar bahwa sumpah Allah adalah ya dan amin dalam Kristus; sebuah jaminan yang tak terbantahkan bahwa kehendak-Nya yang terdalam bukanlah untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan dan memulihkan segala sesuatu kepada diri-Nya.



Klik atau Tap disini  untuk baca Artikel Lainnya


Tuhan Memberkati


20 September 2025

Mantiri AAM


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Theory of "Yahweh Outside Israel" (Latest Archaeological Evidence)

Paraclete in Islam ?

The Fall, Theta, and the Lost Childlike Faith