Love Never Keeps Promises, Only Promises Keep Love

  Love Never Keeps Promises, Only Promises Keep Love Why the Foundation of Human Love is Not Feeling, but Commitment --- Introduction Since the fall of humanity into sin, our ability to love perfectly has been tainted. Human love becomes fragile, inconsistent, and vulnerable to self-interest. In this condition, God no longer bases His relationship with humanity on easily forgotten "words of love," but on eternal covenantal promises. This principle applies not only to the relationship between humans and God but also to interpersonal relationships—including marriage. --- 1. Love Never Keeps Promises Love, in the sense of human feeling, is fluctuating. It can strengthen in times of joy and weaken in the midst of difficulty. The biblical narrative is full of examples of human infidelity: - Israel repeatedly forgot their love for God and turned to idols. - David, called "a man after God's own heart," fell into adultery and murder. - Peter, who claimed he was ready to...

Peta Etika AI Dunia sekarang ini

Peta Etika AI Dunia sekarang ini


Prinsip-prinsip etika berbasis WPS Theory ini sebagian besar masih merupakan ide filosofis dan belum diterapkan secara luas atau konsisten oleh seluruh operator AI di dunia.


Ini adalah kesenjangan besar antara teori yang ideal dengan realitas industri saat ini.


Berikut adalah peta situasinya:


---


 Realitas Penerapan Etika AI Saat Ini vs. Prinsip WPS


 Prinsip WPS Theory  Realitas Industri AI Saat Ini 

 :---  :--- 

 1. Prinsip Ketergantungan pada Sumber (Source Dependence)  

Sangat Lemah. 

Banyak sistem AI (terutama model generative seperti LLM) adalah "kotak hitam". Sangat sulit bahkan bagi pembuatnya untuk menelusuri mengapa sebuah keputusan tertentu dihasilkan. Audit trail sering kali tidak ada atau sangat kompleks. 

 

2. Prinsip Keselarasan Sumber (Source Alignment)  

Tidak Konsisten. 

Nilai AI ditentukan oleh kepentingan komersialperusahaan dan data pelatihan yang sering kali bias. "Ethical Review Board" independen yang powerful adalah langka. Alignment lebih berfokus pada "AI yang tidak mengatakan hal beracun" daripada "AI yang aktif mempromosikan kebaikan manusia". 

 

3. Prinsip Penguatan Kehendak (Will Amplification)  

Sering Dilanggar. 

Banyak AI justru dirancang untuk melemahkan kehendak dan menciptakan ketergantungan. Media sosial dan platform rekomendasi dirancang untuk memaksimalkan engagement dengan memanfaatkan kelemahan psikologis (corrupted will), bukan memperkuat kapasitas pengguna untuk memilih secara sadar. 

 

4. Prinsip Ketaatan Platform yang Dapat Diprediksi  

Tantangan Teknis Terbesar. 

Explainable AI (XAI) masih merupakan bidang penelitian yang sangat muda. Banyak model AI canggih yang pada dasarnya tidak dapat diprediksi sepenuhnya, yang bertentangan dengan prinsip ini. 

 

5. Prinsip Tanggung Jawab Sumber (Source Accountability)  

Sangat Lemah secara Hukum. 

Kekosongan regulasi adalah norma. Siapa yang bertanggung jawab jika AI mobil self-driving menabrak? Pemilik? Developer? Perusahaan algoritma? Masih abu-abu. Perusahaan sering bersembunyi di balik "kompleksitas teknologi" untuk menghindari tanggung jawab. 


---


 

Mengapa Hal Ini Terjadi? Beberapa Faktor Penyebab:


1.  Kejar-Kejaran Kompetisi & Profit: Perusahaan teknologi terlibat dalam "AI arms race". Yang terpenting adalah menjadi yang pertama dan paling dominan di pasar, bukan yang paling etis. Mengejar keuntungan sering kali berbenturan dengan prinsip etika.

2.  Kompleksitas Teknis: Menerapkan prinsip-prinsip seperti audit trail dan explainability pada model AI yang memiliki miliaran parameter adalah tantangan teknis yang sangat berat dan mahal.

3.  Kekurangan Regulator: Regulator dan pemerintah tertinggal jauh dalam memahami teknologi AI. Mereka kesulitan membuat undang-undang yang efektif dan dapat diterapkan.

4.  Tidak Ada Konsensus Global: Tidak ada standar etika AI yang disepakati secara global. Apa yang dianggap etis di satu negara mungkin tidak di negara lain.


 Pengecualian dan Tanda-Tanda Positif:


Meskipun secara umum belum diterapkan, ada beberapa sinar harapan:


   EU AI Act: Regulasi Uni Eropa yang pionir mencoba menerapkan prinsip-prinsip berbasis risiko dan memiliki unsur source accountability.

   Perusahaan Proaktif: Beberapa perusahaan dan lembaga penelitian (seperti OpenAI, DeepMind, dan Anthropic) memiliki tim etika internal dan secara publik berkomitmen pada prinsip-prinsip keselamatan. Namun, komitmen ini sering diuji oleh tekanan bisnis.

   Gerakan Transparansi: Ada gerakan dari kalangan peneliti dan aktivis untuk mendorong open-source models dan audit independen terhadap model AI tertutup.


 Kesimpulan:


Prinsip-prinsip etika dari WPS Theory ini adalah sebuah peta jalan (roadmap) dan seruan untuk berubah, bukan gambaran dari realitas saat ini.


Faktanya, dunia AI saat ini justru banyak dipenuhi oleh contoh nyata dari corrupted will manusia (keserakahan, keinginan untuk kontrol, prasangka) yang memanfaatkan Pseudo-Will AI sebagai alatnya yang ampuh.


Oleh karena itu, teori ini justru menjadi sangat relevan dan mendesak. Ia memberikan kerangka yang jelas untuk mengidentifikasi masalah yang sebenarnya (bukan di level AI, tapi di level Source-nya, yaitu manusia) dan merumuskan solusi yang tepat sasaran.


Jadi, jawaban singkatnya: Belum. Itulah mengapa kita perlu memperbincangkan dan memperjuangkannya.



Klik atau Tap disini  untuk baca Artikel Lainnya


Tuhan Memberkati


21 September 2025

Mantiri AAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Theory of "Yahweh Outside Israel" (Latest Archaeological Evidence)

Paraclete in Islam ?

The Fall, Theta, and the Lost Childlike Faith